cangkrukan bareng karo ngomong opo ae gawe nambah wawasan

Jumat, 13 April 2012

Gempa Kembar di Aceh

                                                                                                                    BMKG
 Pusat gempa 8,5 SR di Aceh (lingkaran merah). 

Gempa yang terjadi di Provinsi Aceh Nangroe Darussalam, Rabu (11/4/2012) sore, ternyata bukan satu gempa utama yang diikuti dengan sejumlah gempa susulan. Rangkaian gempa itu merupakan dua gempa utama.

"Gempa kemarin sebenarnya gempa kembar. Jadi ada dua gempa utama," kata Danny Hilman Natawijaya, pakar geologi dan palaeotsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Gempa pertama terjadi pada pukul 15.38 WIB dengan kekuatan 8,5 skala Richter. Pusat gempa pada kedalaman 10 km, berjarak 346 km barat daya Kabupaten Simeuleu.
Adapun gempa kedua terjadi pada pukul 17.43 WIB dengan kekuatan 8,1 skala Richter. Pusat gempa punya kedalaman 10 km dan berjarak 483 km barat daya Simeuleu. "Lokasi pusat gempa keduanya memang berdekatan, semua berpusat di luar zona subduksi," kata Danny saat dihubungi Kompas.com, Kamis (12/4/2012).
Akibat dua gempa yang terjadi kemarin, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini akan potensi terjadinya tsunami. Peringatan tsunami diakhiri pukul 19.45 WIB.
Tsunami memang terjadi setelah gempa besar pertama, meskipun dalam intensitas kecil. Berdasarkan informasi BMKG, tsunami terjadi di Meulaboh setinggi 80 cm pukul 17.00 dan di Sabang setinggi 6 cm pukul 17.04.
Tsunami besar tidak terjadi sebab gempa lebih dipicu oleh gerakan sesar miring (oblique) dan di luar zona subduksi. Tsunami besar bisa terjadi bila pusat gempa di zona subduksi dan gerakan sesar vertikal. Dua gempa besar yang terjadi memang berkekuatan 8,5 skala richter dan 8,1 skala richter. Namun, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tsunami yang terjadi tak sampai 1 meter.
Hingga saat ini, telah ada 28 gempa susulan yang terjadi akibat dua gempa yang terjadi kemarin.

Gempa yang terjadi di luar zona subduksi tetap harus diwaspadai walaupun memiliki potensi tsunami yang lebih rendah. Hal itu diungkapkan Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Rocky Dwi Putrohadi, Kamis (12/4/2012) kemarin.

Meski besar gempa hampir sama, namun dampak gempa Rabu kemarin jauh berbeda dengan gempa Aceh tahun 2004 (9,1 Skala Richter). Rovicky menuturkan, gempa di luar zona subduksi tetap harus diwaspadai sebab informasi tentang lokasi pusat gempa tak langsung dampat diketahui masyarakat. "Setiap kejadian gempa di laut, kita tidak langsung tahu apakah itu terjadi di wilayah yang berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak. Jadi setiap gempa laut harus diwaspadai," jelas Rovicky.

Selain itu, gempa di luar zona subduksi juga dapat memicu gempa selanjutnya di luar zona subduksi maupun di zona subduksi. Rovicky menuturkan, gempa Aceh Rabu kemarin bisa mempengaruhi zona subduksi, memicu terjadinya gempa di Mentawai. Jika terjadi gempa besar di laut, masyarakat diharapkan tetap responsif dengan pergi ke wilayah yang lebih tinggi tanpa perlu panik.
sumber: Kompas.com

0 komentar:

Posting Komentar

My Blog List

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Pages

© AYO NGOPI REK, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena